Kamis, 22 Oktober 2015

Konservasi Hutan Mangrove



           Berdasarkan data tahun 1999, luas hutan mangrove di Indonesia diperkirakan mencapai 8,60 juta hektar dan 5,30 juta hektar di antaranya dalam kondisi rusak (Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial 2001). Kerusakan tersebut disebabkan oleh konversi mangrove yang sangat intensif pada tahun 1990-an menjadi pertambakan terutama di Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi dalam rangka memacu ekspor komoditas perikanan. Hal tersebut dapat dilihat dari perkembangan luas tambak di Indonesia dari sekitar 225.000 ha pada tahun 1984 (Direktorat Jenderal Perikanan 1985) menjadi 325.000 ha pada akhir Pelita IV (Cholik dan Poernomo 1986). Selanjutnya untuk menunjang keberhasilan “Protekan 2003”, pengembangan budi daya tambak hingga tahun 2002/ 2003 ditargetkan mencapai 212.600 ha untuk program intensifikasi tambak dan 122.800 ha untuk program ekstensifikasi tambak, dengan target perolehan devisa US$ 6.778 juta (Nurdjana 1999). Berdasarkan data Direktorat Jenderal Perikanan, pada tahun 1999 luas hutan mangrove yang telah dikonversi menjadi pertambakan mencapai 840.000 ha (Inoue et al. 1999) sehingga hutan mangrove banyak yang mengalami kerusakan (Gunarto dan Hanafi 2000). Hilangnya mangrove dari ekosistem perairan pantai telah menyebabkan keseimbangan ekologi lingkungan pantai terganggu. Melimpahnya bahan organik yang berasal dari sisa pakan pada usaha budi daya udang intensif di lingkungan perairan pantai juga menyebabkan bakteri oportunistik patogen berubah menjadi betul-betul patogen seperti bakteri Vibrio harveyi. Selain itu, serangan white spot baculo virus (WSBV) juga meningkat dan telah menyebabkan kematian udang windu yang dibudidayakan di tambak (Ahmad dan Mangampa 2000). Inoue et al. (1999) melaporkan bahwa pada tahun 1990, sekitar 15.000 ha tambak udang mengalami gagal panen akibat serangan virus. Serangan virus ini semakin meluas hingga tahun 2000 dan menyebabkan banyak tambak udang gagal panen. Akibatnya produksi udang hasil budi daya terus menurun hingga tahun 2001, yaitu dari 180.000 metrik ton pada tahun 1995 menjadi 80.000 metrik ton pada tahun 2001 (Sugama 2002). Dampak lainnya adalah menurunnya keanekaragaman hayati organisme akuatik (Soeriaatmadja 1997). Sontirat (1989) melaporkan bahwa di kanal Klong Wan, Thailand, sebelum terjadi kerusakan mangrove terdapat 4 genus kepiting yaitu Uca sp., Sesarma sp., Metapograpsus sp., dan Scylla serrata serta 72 spesies ikan yang termasuk dalam 6 ordo yaitu Clupeiformes, Cypriniformes, Belonoformes, Mugiliformes, Perciformes, dan Tetrodontiformes. Setelah mangrove hilang, ukuran ikan menjadi lebih kecil dan spesiesnya tinggal 34 spesies yang masuk dalam 5 ordo yaitu Clupeiformes, Cypriniformes, Beloniformes, Mugiliformes, dan Perciformes. Kondisi demikian pada akhirnya dapat menyebabkan produksi perikanan pantai menurun (Boyd 1999). Dalam era perdagangan bebas, persaingan akan semakin ketat terutama mengenai mutu produk. Selain itu, isu pelestarian sumber daya alam termasuk perikanan dan isu internasional lainnya juga menjadi penentu dalam dunia perdagangan bebas. Di bidang kehutanan dan perikanan juga telah didengungkan ecolabelling yang berkaitan dengan usaha pengelolaan sumber daya alam secara terkendali dan berkesinambungan. Pencegahan eksploitasi alam yang berlebihan tanpa memperhitungkan batas toleransinya perlu dicegah, misalnya penangkapan udang ataupun ikan dengan menggunakan pukat harimau yang dapat menangkap semua jenis dan ukuran ikan. Sebagai contoh, di perairan Pulau Podang-Podang, Kepulauan Spermonde, Sulawesi Selatan, jumlah ikan kerapu yang dapat ditangkap semakin berkurang akibat banyaknya pukat harimau yang beroperasi (Mansyur, komunikasi pribadi). Contoh lainnya adalah produksi udang dari budi daya tambak hasil konversi hutan bakau yang tidak terkendali. Hal semacam itu akan dijadikan alasan negaranegara maju untuk menolak produk suatu negara masuk ke pasaran dunia, dengan alasan tidak menerapkan eco-labelling ataupun eco-friendly dalam sistem produksinya. Untuk mengantisipasi hal-hal tersebut serta untuk memulihkan kondisi perairan pantai yang telah rusak dan menciptakan ekosistem pantai yang layak untuk kehidupan ikan, maka perbaikan perairan pantai yang telah rusak mutlak dilakukan dengan melestarikan mangrove. Kegiatan ini dapatdilakukan oleh kelompok-kelompok masyarakat pantai sehingga akan tercipta community-based management, atau masyarakat sebagai komponen utama penggerak pelestarian mangrove (Bengen 2000). Kegiatan masyarakat pantai Desa Tongke-Tongke Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, dalam merehabilitasi kawasan pantai dengan penghutanan kembali mangrove merupakan salah satu contoh yang diharapkan dapat dipraktekkan di daerah lainnya. Tulisan ini membahas fungsi mangrove dan berbagai jenis ikan, udang, kepiting, serta makrobentos yang hidup sekitar perairan mangrove.

FUNGSI MANGROVE
Mangrove biasanya berada di daerah muara sungai atau estuarin sehingga merupakan daerah tujuan akhir dari partikel-partikel organik ataupun endapan lumpur yang terbawa dari daerah hulu akibat adanya erosi. Dengan demikian, daerah mangrove merupakan daerah yang subur, baik daratannya maupun perairannya, karena selalu terjadi transportasi nutrien akibat adanya pasang surut. Mangrove mempunyai berbagai fungsi. Fungsi fisiknya yaitu untuk menjaga kondisi pantai agar tetap stabil, melindungi tebing pantai dan tebing sungai, mencegah terjadinya abrasi dan intrusi air laut, serta sebagai perangkap zat pencemar. Fungsi biologis mangrove adalah sebagai habitat benih ikan, udang, dan kepiting untuk hidup dan mencari
makan, sebagai sumber keanekaragaman biota akuatik dan nonakuatik seperti burung, ular, kera, kelelawar, dan tanaman anggrek, serta sumber plasma nutfah. Fungsi ekonomis mangrove yaitu sebagai sumber bahan bakar (kayu, arang), bahan bangunan (balok, papan), serta bahan tekstil, makanan, dan obat-obatan. Mangrove mengangkut nutrien dan detritus ke perairan pantai sehingga produksi primer perairan di sekitar mangrove cukup tinggi dan penting bagi kesuburan perairan. Dedaunan, ranting, bunga, dan buah dari tanaman mangrove
yang mati dimanfaatkan oleh makrofauna, misalnya kepiting sesarmid, kemudian didekomposisi oleh berbagai jenis mikroba yang melekat di dasar mangrove dan secara bersama-sama membentuk rantai makanan. Detritus selanjutnya dimanfaatkan oleh hewan akuatik yang mempunyai tingkatan lebih tinggi seperti bivalvia, gastropoda, berbagai jenis juvenil ikan dan udang, serta kepiting. Karena keberadaan mangrove sangat penting maka pemanfaatan mangrove untuk budidaya perikanan harus rasional. Ahmad dan Mangampa (2000) menyarankan hanya 20% saja dari lahan mangrove yang dikonversi menjadi pertambakan.



UPAYA PELESTARIAN
MANGROVE
Tanaman mangrove mempunyai fungsi yang sangat penting secara ekologi dan ekonomi, baik untuk masyarakat lokal, regional, nasional maupun global. Dengan demikian, keberadaan sumber daya mangrove perlu diatur dan ditata pemanfaatannya secara bertanggung jawab sehingga kelestariannya dapat dipertahankan. Inoue et al. (1999) melaporkan bahwa di Indonesia terdapat sekitar 75 spesies vegetasi mangrove yang tersebar di 27 propinsi. Selanjutnya Suryati et al. (2001) melaporkan, beberapa vegetasi mangrove seperti Osbornia octodonta, Exoecaria agalocha, Acanthus ilicifolius, Avicennia alba, Euphatorium inulifolium, Carbera manghas, dan Soneratia caseolaris mengandung zat bioaktif yang dapat dijadikan bahan untuk penanggulangan penyakit bakteri pada budi daya udang windu. Daerah pantai termasuk mangrove mendapat tekanan yang tinggi akibat perkembangan infrastuktur, pemukiman, pertanian, perikanan, dan industri, karena 60% dari penduduk Indonesia bermukim di daerah pantai. Diperkirakan sekitar 200.000 ha mangrove di Indonesia mengalami kerusakan setiap tahun (Inoue et al. 1999). Melihat fungsi mangrove yang sangat strategis dan semakin meluasnya kerusakan yang terjadi, maka upaya pelestarian mangrove harus segera dilakukan dengan berbagai cara. Dalam budi daya udang, misalnya, harus diterapkan teknik budi daya yang ramah mangrove, artinya dalam satu hamparan tambak harus ada hamparan mangrove yang berfungsi sebagai biofilter dan tandon air sebelum air masuk ke petakan tambak. Upaya penghutanan kembali tepi perairan pantai dan sungai dengan tanaman mangrove perlu dilakukan dengan melibatkan partisipasi masyarakat, seperti yang dilakukan oleh masyarakat Tongke-Tongke, Sulawesi Selatan. Mangrove juga dapat dikembangkan sebagai daerah wisata seperti yang telah dilakukan di Cilacap (Jawa Tengah), Sukamandi dan Cikiong, (Jawa Barat). Untuk meningkatkan produktivitas mangrove tanpa merusak keberadaannya dapat dikembangkan budi daya sistem silvo-fishery misalnya untuk pematangan atau penggemukan kepiting bakau, pentokolan benur windu, pendederan nener bandeng, dan pembesaran nila
merah. Di perairan sungai di kawasan mangrove dapat dijadikan lahan budidaya ikan dengan sistem karamba apung terutama untuk ikan kakap, kerapu lumpur, nila merah, dan bandeng.

STRATEGI KONSERVASI
Sumberdaya alam yang merupakan perwujudan dari keserasian ekosistem dan keserasian unsur-unsur pembentuknya perlu dijaga dan dilestarikan sebagai upaya menjamin keseimbangan dalam rangka pembangunan manusia seutuhnya yang sejahtera secara berkesinambungan. Kebijaksaan ini dituangkan dalam strategi konservasi, yaitu :
(a). Perlindungan terhadap sistem penyangga kehidupan, dengan menjamin terpeliharanya proses ekologi bagi kelangsungan hidup biota dan ekosistemnya;
(b). Pengawetan keanekaragaman sumberdaya plasma nutfah, yaitu menjamin terpeliharanya sumber genetik dan ekosistemnya bagi kepentingan umat manusia;
(c). Pelestarian pemanfaatan jenis dan ekosistemnya, yaitu dengan mengatur dan
mengendalikan cara-cara pemanfaatannya, sehingga mencapai manfaat yang optimal dan berkesimnambungan. Adapun beberapa tujuan dari   konservasi mangrove adalah :
(a). Melestarikan contoh-contoh perwakilan habitat dengan tipe-tipe ekosistemnya.
(b). Melindungi jenis-jenis biota (dengan habitatnya) yang terancam punah.
(c). Mengelola daerah yang penting bagi pembiakan jenis-jenis biota yang bernilai ekonomi.
(d). Memanfaatkan daerah tersebut untuk usaha rekreasi, pariwisata,pendidikan dan penelitian.
(e). Sebagai tempat untuk melakukan pelatihan di bidang pengelolaan sumberdaya alam.
(f). Sebagai tempat pembanding bagi kegiatan monitoring tentang akibat manusia terhadap lingkungannya.
Menurut Waryono (1973) bahwa ekosistem mangrove di Indonesia berdasarkan status peruntukannya dapat dikelompokkan menjadi: (a) kawasan konservasi dengan peruntukan sebagai cagar alam, (b) kawasan konservasi dengan peruntukan sebagai suaka margasatwa, (c) kawasan konservasi perlindungan alam, (d) kawasan konservasi jalur hijau penyangga, (e) kawasan hutan produksi mangrove, dan (f) kawasan ekosistem wisata mangrove. Ekosistem mangrove sebagai cagar alam dan suaka margasatwa berfungsi terutama sebagai pelindung dan pelestari keanekaragaman hayati. Kriteria kawasan cagar alam adalah kawasan yang ditunjuk mempunyai keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa serta tipe ekosistemnya, mewakili formasi biota tertentu dan/atau unit penyusunnya mempunyai kondisi alam, baik biota maupun fisiknya yang masih asli dan tidak atau belum diganggu oleh manusia, mempunyai luas dan bentuk tertentu agar menunjang pengelolaan yang efektif dengan daerah penyangga yang cukup luas, dan/atau mempunyai ciri khas dan dapat merupakan satu-satunya contoh di suatu daerah serta keberadaannya memerlukan konservasi. Kawasan suaka margasatwa adalah kawasan yang ditunjuk merupakan tempat hidup dan perkembangbiakan dari satu jenis satwa yang perlu dilakukan upaya konservasinya, memiliki keanekaragaman satwa yang tinggi, merupakan tempat dan kehidupan bagi jenis satwa migran tertentu, dan/atau mempunyai luas yang cukup sebagai habitat jenis satwa yang bersangkutan. Ekosistem perlindungan alam, berfungsi terutama sebagai pelindung hidrologi dan pelindung pantai serta habitat biota pantai. Jalur hijau ekosistem mangrove adalah ekosistem mangrove yang ditetapkan sebagai jalur hijau di daerah pantai dan di tepi sungai, dengan lebar tertentu yang diukur dari garis pantai dan tepi sungai, yang berfungsi mempertahankan tanah pantai dan kelangsungan biotanya. Oleh karena itu jalur hijau ekosistem mangrove dapat berfungsi sebagai ekosistem lindung dan atau ekosistem suaka alam.
Video : https://www.youtube.com/watch?v=pNCy4PTfgM8

Rabu, 21 Oktober 2015

PENGHIJAUAN BUMI




Penghijauan adalah salah satu kegiatan penting yang harus dilaksanakan secara konseptual dalam menangani krisis lingkungan. Jadi lakukanlah kegiatan ini sesering mungkin.

Banyak fakta yang menunjukkan bahwa tidak jarang pembangunan dibangun di lahan hijau terbuka. Padahal tumbuhan dalam ekosistem berperan sebagai produsen pertama yang mengubah energi surya menjadi energi potensial untuk makhluk lainnya dan mengubah CO2 menjadi O2 dalam proses fotosintesis. Sehingga dengan meningkatkan penghijauan di daerah perkotaan berarti dapat mengurangi CO2 atau polutan lainnya yang berperan terjadinya efek rumah kaca atau gangguan iklim. Di samping vegetasi berperan dalam kehidupan dan kesehatan lingkungan secara fisik, juga berperan estetika serta kesehatan jiwa dan raga. Mengingat pentingnya peranan vegetasi ini terutama di daerah perkotaan untuk menangani krisis lingkungan maka diperlukan kesadaran, perencanaan dan pelaksanaan dalam upaya menghijaukan lingkungan. Dari berbagai pengamatan dan penelitian ada kecenderungan bahwa pelaksanaan penghijauan belum konseptual, malah terkesan asal jadi.


Penghijauan
Penghijauan dalam arti luas adalah segala daya untuk memulihkan, memelihara dan meningkatkan kondisi alam agar dapat terus berproduksi dan berfungsi secara optimal, baik sebagai pengatur tata air atau pelindung lingkungan. Ada pula yang mengatakan bahwa penghijauan didaerah kota adalah suatu usaha untuk menghijaukan kota dengan melaksanakan pengelolaan taman-taman kota, taman-taman lingkungan, jalur hijau dan sebagainya. Dalam hal ini penghijauan perkotaan merupakan kegiatan pengisian ruang terbuka di perkotaan. Pada proses fotosintesis tumbuhan hijau mengambil CO2 dan mengeluarkan C6H12O6 serta peranan O2 yang sangat dibutuhkan manusia. Oleh karena itu, peranan tumbuhan hijau sangat diperlukan untuk menjaring CO2 dan melepas O2 kembali ke udara. Di samping itu berbagai proses metabolisme tumbuhan hijau dapat memberikan berbagai fungsi untuk kebutuhan makhluk hidup yang dapat meningkatkan kualitas lingkungan.
Begitu pentingnya peran tumbuhan di bumi ini dalam menangani krisis lingkungan terutama di daerah perkotaan, sangat tepat jika keberadaan tumbuhan mendapat perhatian serius dalam pelaksanaan penghijauan perkotaan sebagai unsur hutan kota.


Penghijauan berperan dan berfungsi
Sebagai paru-paru kota. Tanaman sebagai elemen hijau, pada pertumbuhannya menghasilkan zat asam (O2) yang sangat diperlukan bagi makhluk hidup untuk pernapasan;
Sebagai pengatur lingkungan (mikro), vegetasi akan menimbulkan hawa lingkungan setempat menjadi sejuk, nyaman dan segar;
Pencipta lingkungan hidup (ekologis);
Penyeimbangan alam (adaphis) merupakan pembentukan tempat-tempat hidup alam bagi satwa yang hidup di sekitarnya;
Perlindungan (protektif), terhadap kondisi fisik alami sekitarnya (angin kencang, terik matahari, gas atau debu-debu);
Keindahan (estetika);
Kesehatan (hygiene); (Rekreasi dan pendidikan (edukatif);
Sosial politik ekonomi.
Pemilihan jenis tanaman untuk penghijauan agar tumbuh dengan baik hendaknya dipertimbangkan syarat-syarat hortikultura (ekologikal) dan syarat-syarat fisik. Syarat hortikultural yaitu respons dan toleransi terhadap temperatur, kebutuhan air, kebutuhan unsur hara dan toleransi terhadap cahaya matahari, kebutuhan tanah, hama dan penyakit, serta syarat-syarat fisik lainnya yaitu tujuan penghijauan, persyaratan budi daya, bentuk tajuk, warna, aroma.


Unsur hutan kota (urban forestry)
Fungsi dan manfaat hutan antara lain untuk memberikan hasil, pencagaran flora dan fauna, pengendalian air tanah dan erosi, ameliorasi iklim. Jika hutan tersebut berada di dalam kota fungsi dan manfaat hutan antara lain menciptakan iklim mikro, arsitektural, estetika, modifikasi suhu, peresapan air hujan, perlindungan angin dan udara, pengendalian polusi udara, pengelolaan limbah dan memperkecil pantulan sinar matahari, pengendalian erosi tanah, mengurangi aliran permukaan, mengikat tanah. Konstruksi vegetasi dapat mengatur keseimbangan air dengan cara intersepsi, infiltrasi, evaporasi dan transpirasi.
Menelaah fungsi penghijauan perkotaan dan fungsi hutan dapat dikatakan bahwa penghijauan perkotaan merupakan unsur dari hutan kota. Sedangkan hutan kota adalah bagian dari ruang terbuka hijau kota. Hutan kota (urban forestry) menurut Grey dan Denehe (1978), meliputi semua vegetasi berkayu di dalam lingkungan pemukiman, mulai dari kampung yang kecil sampai kota besar. Fukuara dkk. (198 mengemukakan tentang hutan kota, yaitu ruang terbuka yang ditumbuhi vegetasi berkayu di wilayah perkotaan yang memberikan manfaat lingkungan sebesar-besarnya kepada penduduk kota dalam kegunaan proteksi, estetika serta rekreasi khusus lainnya.
Sedangkan menurut Grey dan Denehe (1978), hutan kota (urban forestry) meliputi semua vegetasi berkayu di dalam lingkungan pemukiman, mulai dari kampung yang kecil sampai kota besar. Mengingat pekarangan mengandung sifat perhutanan yang beraspirasi untuk kepentingan rakyat, maka pengembangan perhutanan yang bersifat pekarangan ini tampaknya lebih demokrasi yaitu sistem agroforestry yang dikelola rakyat. Pekarangan dapat menghasilkan kayu, bambu, karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan obat-obatan.
Sebagai konsekuensi tumbuhan sebagai produsen pertama dalam ekosistem, dan mengingat fungsi hutan kota dan fungsi penghijauan perkotaan sangat bergantung kepada vegetasi yang digunakan maka tidak perlu lagi dipersoalkan luas lahan sebagai syarat hutan kota. Yang penting adalah jumlah dan keanekaragaman vegetasi yang ditaman di perkotaan sebanyak mungkin. Dengan demikian penghijauan perkotaan sebagai unsur hutan kota perlu ditingkatkan secara konseptual meliputi perencanaan, pelaksanaan dan pemeliharaan dengan mempertimbangkan aspek estetika, pelestarian lingkungan dan fungsional. Pelaksanaan harus sesuai dengan perencanaan begitu pula pemeliharaan harus dilakukan secara terus-menerus.


Teknik penanaman
Faktor-faktor utama yang perlu diperhatikan yaitu dalam teknik penanaman pohon adalah,
Pemilihan bibit tanaman. Bibit generatif adalah berasal dari biji, merupakan bibit yang lebih tepat karena mempunyai akar tunggang dan dapat hidup lebih lama. Bibit vegetatif, adalah bibit yang berasal dari bagian-bagian vegetatif tanaman, seperti batang, daun dan akar. Bibit vegetatif umumnya kurang kokoh dan perakarannya dangkal sehingga cepat merusak trotoar, jalan atau saluran drainase. Bibit yang baik sekurang-kurangnya telah tumbuh di wadahnya selama 6 bulan dengan batang tinggi minimal + 1.50 m dan diameter 0.05 m, untuk mengujinya cukup dengan mencabut bibit tersebut. Apabila bibit mudah lepas dari wadahnya berarti baru dipindahkan dan belum cukup baik ditanam di lapangan, sebaliknya jika sulit dilepaskan berarti perakarannya sudah terbentuk dengan baik dan dapat ditanam di lapangan
Penanaman. Usahakan sebelum melakukan penanaman tanah digemburkan terlebih dahulu. Ukuran lubang tanam sangat bergantung pada besarnya tanaman
Perawatan pascatanam. Mempertahankan posisi tumbuh agar tetap tegak dan stabil. Menyiram tanaman 2-3 hari sekali terutama di musim kemarau sambil membuang ranting-ranting yang kerimg. Bila perlu memupuk tanaman 3 bulan sekali dengan pupuk NPK.


Manfaat hutan yang lain adalah:
Sebagai suplyer Oksigen yang merupakan bahan baku utama untuk pernafasan manusia
Sebagai pencegah banjir
Sebagai penyejuk alam
Sebagai paru-paru dunia
masih banyak lagi manfaat hutan bagi manusia yang lain.

10 Cara untuk Go Green danPenghijauan
Bagaimana kita bisa hidup ringan di Bumi dan menyimpan uang pada waktu yang sama?Anggota staf di Worldwatch Institute, sebuah organisasi lingkungan global, berbagi ide tentang bagaimana untuk GO GREEN dan SAVE GREEN di rumah dan di tempat kerja.Perubahan iklim adalah dalam berita. Sepertinya semua orang “akan melakukan  penghijauan.” Kami senang Anda ingin mengambil tindakan, juga. Untungnya, banyak langkah yang bisa kita ambil untuk menghentikan perubahan iklim dapat membuat hidup kita lebih baik. anak – anak kami dan  cucu – cucu kami akan berterima kasih untuk hidup lebih lestari Mari kita mulai sekarang.
Dengan Kampanye Jutaan Karbon mobil untuk membantu Anda menemukan cara untuk menghemat energi dan mengurangi jejak karbon Anda.Kampanye ini menyatukan sadar konsumen di seluruh dunia untuk mencegah emisi-setara dengan 1 juta mobil memasuki atmosfer setiap tahun.10 hal sederhana yang dapat anda lakukan hari ini untuk membantu mengurangi dampak lingkungan anda, menghemat uang, dan hidup bahagia sehat. Untuk saran lebih, pembelian Negara Dunia 2010 – Transformasi Budaya: Dari Konsumerisme untuk Keberlanjutan, cara reorientasi budaya menuju keberlanjutan
 1. Simpan energi untuk menghemat uang.  


Mengatur termostat Anda beberapa derajat lebih rendah di musim dingin dan beberapa derajat lebih tinggi di musim panas untuk menghemat biaya pemanasan dan pendinginan.Instal bola lampu neon kompak (CFL) ketika lampu pijar tua Anda terbakar habis.Cabut peralatan saat Anda tidak menggunakan mereka. Atau, gunakan “cerdas” strip daya yang merasakan ketika peralatan sedang off dan pemotongan “siluman” atau “vampir” penggunaan energi.Cuci pakaian dalam air dingin bila memungkinkan. Sebanyak 85 persen dari energi yang digunakan untuk mesin-mencuci pakaian pergi ke pemanasan.Gunakan rak pengeringan atau jemuran untuk menyimpan energi dinyatakan digunakan selama mesin pengering.
2. Simpan air untuk menghemat uang

Mandi dengan pancuran lebih pendek untuk mengurangi penggunaan air. Ini akan menurunkan air dan tagihan pemanas juga.Instal aliran rendah pancuran. Mereka tidak biaya banyak, dan penghematan air dan energi dengan cepat dapat membayar kembali investasi Anda.Pastikan Anda memiliki keran aerator keran masing-masing. Peralatan ini murah menghemat panas dan air, sambil menjaga tekanan air tinggi.Tanaman toleran kekeringan tanaman asli di kebun Anda. Banyak tanaman perlu disiram minimal. Cari tahu yang terjadi secara alami di daerah Anda.
3. Gas kurang (uang = lebih dan kesehatan yang lebih baik!)

Berjalan atau bersepeda untuk bekerja. Hal ini menghemat gas dan biaya parkir sementara meningkatkan kesehatan jantung Anda dan mengurangi risiko obesitas.Pertimbangkan telecommuting jika Anda tinggal jauh dari pekerjaan Anda. Atau bergerak lebih dekat. Bahkan jika ini berarti membayar sewa lebih, bisa menghemat uang dalam jangka panjang.Lobby pemerintah setempat untuk meningkatkan pengeluaran di trotoar dan jalur sepeda. Dengan sedikit biaya, perbaikan ini dapat membayar dividen yang besar dalam memperbaiki kesehatan Anda dan mengurangi lalu lintas.
4. Makan cerdas.

Jika Anda makan daging, tambahkan satu makanan tanpa daging seminggu. Daging biaya banyak di toko-dan bahkan lebih mahal jika Anda mempertimbangkan biaya lingkungan dan kesehatan yang terkait.Beli secara lokal mengangkat, manusiawi, dan daging organik, telur, dan susu kapan pun Anda bisa. Pembelian dari uang farmerskeeps lokal dalam ekonomi lokal.Menonton video tentang mengapa makanan lokal dan makanan laut berkelanjutan sangat besar.Apapun diet Anda, makan rendah pada rantai makanan. Hal ini terutama berlaku untuk makanan laut.
5. Melewatkan air kemasan.       


Gunakan filter air untuk memurnikan air keran daripada membeli air kemasan. Tidak hanya air kemasan mahal, tapi menghasilkan sejumlah besar limbah wadah.Bawalah botol air dapat digunakan kembali, sebaiknya aluminium bukan plastik, dengan Anda saat bepergian atau di tempat kerja.Check out artikel pendek untuk terbaru tentang tren air kemasan.
6. Berpikirlah sebelum Anda membeli

Pergi online untuk menemukan produk baru atau bekas dengan lembut digunakan.Apakah Anda baru saja pindah atau mencari untuk mendekorasi ulang, mempertimbangkan layanan seperti craigslist atau FreeSharing untuk melacak perabot, peralatan, dan item lainnya murah atau gratis.Periksa penjualan garasi, toko barang bekas, dan toko-toko konsinyasi untuk pakaian dan barang-barang sehari-hari lainnya.Ketika melakukan pembelian, pastikan Anda tahu apa yang “Stuff Baik” dan apa yang tidak.Menonton video tentang apa yang terjadi ketika Anda membeli sesuatu. Pembelian Anda memiliki dampak yang nyata, untuk lebih baik atau lebih buruk.
7. Pinjam daripada membeli.  


Pinjam dari perpustakaan daripada membeli buku-buku pribadi dan film. Ini menghemat uang, belum lagi tinta dan kertas yang masuk ke dalam pencetakan buku-buku.Berbagi peralatan listrik dan peralatan lainnya. Kenalilah tetangga Anda saat memotong bawah pada jumlah hal yang berserakan lemari atau garasi Anda.
8. Beli cerdas.
Beli dalam massal. Membeli makanan dari tempat sampah massal dapat menghemat uang dan kemasan.Kenakan pakaian yang tidak perlu dry-clean. Ini menghemat uang dan luka bawah pada penggunaan bahan kimia beracun.Investasi di berkualitas tinggi, produk tahan lama. Anda mungkin membayar lebih sekarang, tapi Anda akan bahagia saat Anda tidak perlu mengganti item seperti yang sering (dan ini berarti lebih sedikit sampah!).
9. Jauhkan elektronik dari tempat sampah.


Jauhkan telepon seluler Anda, komputer, dan elektronik lainnya selama mungkin.Donasi atau daur ulang mereka bertanggung jawab bila waktunya tiba.E-limbah mengandung racun merkuri dan lainnya dan merupakan masalah lingkungan tumbuh.Mendaur ulang ponsel Anda.Tanyakan pemerintah setempat untuk mendirikan sebuah daur ulang elektronik dan acara pengumpulan sampah berbahaya.
10. Buatlah persediaan Anda sendiri pembersihan.
Rahasia besar: Anda dapat membuat sangat efektif, tidak beracun produk pembersih setiap kali Anda membutuhkannya. Yang Anda butuhkan adalah beberapa bahan sederhana seperti baking soda, cuka, lemon, dan sabun.Membuat produk Anda sendiri pembersih menghemat uang, waktu, dan kemasan-belum lagi kualitas udara dalam ruangan Anda.

Video: https://www.youtube.com/watch?v=zYD-0WbdKZc